Tampilkan postingan dengan label Sikap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sikap. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 November 2010

untuk apa aku dendam

Kau lukai sampai ke relung hatiku...
Kau hancurkan cermin kepercayaanku...
Tak lagi ada yang bisa kukatakan...
Tak ada lagi yang perlu kulakukan...

Kau telah begitu merobek hatiku...
Seperti serpihan kertas yang tak berarti...
Kau lumatkan utuhnya perasaanku...
Dengan tindakan yang tak pernah kumengerti...

Aku tidak pernah tau isi kepalamu...
Aku tidak pernah tau apa perasaanmu ketika itu...
Kecewaku, pasti...
Marah pun bisa jadi...

Benci dalam benakku...
Sakit hati berbaur menjadi satu...
Tapi dendam nanti dulu...
Untuk apa semua itu...

Dendam seperti duri dalam hatiku...
Yang terus melukai hatiku...
Tusukannya membuat ngilu...
Menjadikan perasaan haru biru...

Untuk apa aku dendam...
Kalau itu semua hanya dipendam...
Lebih baik aku mengampunimu...
Karena Allah juga mengasihimu...

Aku tau itu tak pernah mudah...
Tapi aku selalu percaya...
Suatu saat semua akan berubah...
Jika kita mau berserah...

Karena Allah tidak pernah menyesal terhadap kita...
Walau banyak dosa kita...
DIA tak pernah juga dendam pada kita...
Atas siksa yang telah DIA derita...

--untuk apa aku dendam padamu, kalau DIA saja telah mengampuni aku dan kamu --


Setulus apa?

Pernah merasa kecewa atau marah dengan seseorang??

Karena bersikap tidak sesuai dengan harapan kita...tidak sesuai dengan perkiraan kita.... atau tidak sesuai dengan tebakan kita??

Coba sekarang cek diri kita..... cek pikiran kita.... cek sikap kita sendiri....
Apakah kita melakukannya karena mengharapkan sesuatu?? mengharapkan sesuatu yang sesuai dengan pikiran kita?? atau berharap sesuatu yang lebih??

Jangan-jangan ada yang namanya "ketidaktulusan"
Ketidaktulusan mengakibatkan kita menjadi...
kecewa...
marah...
jera...

Maka supaya tidak mengalami kekecewaan... kemarahan....

Kita harus memiliki ketulusan...
Ketulusan dalam berucap...
Ketulusan dalam bersikap...
ketulusan dalam memberi...
dan ketulusan dalam bertindak...

Jika ketulusan sudah dimiliki....
Kita tidak akan mempermasalahkan...
Kita tidak akan mengkritik...
Kita tidak akan kecewa...
Kita tidak akan marah...
apa pun yang nantinya akan kita terima... apapun yang akan kita hadapi...

Karena dengan ketulusan...kita menjadi pribadi yang bebas... apa pun balasannya.... kita tidak mempermasalahkannya...

menghadapi kejujuran

pernah dengar kalimat ini: "kejujuran terkadang menyakitkan..."??
Tapi apakah setiap kejujuran pasti menyakitkan??

Hidup ini terdiri dari masa lalu, sekarang dan masa depan....
Kejujuran sangat erat kaitannya dengan masa lalu... masa lalu seseorang...
entah itu masa lalu yang kelam... atau masa lalu yang penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan...

Hidup ini juga bercerita banyak tentang kejadian dan peristiwa...
entah yang menyenangkan atau yang menyedihkan...
yang menyenangkan membuat kita bangga.... bernostalgia...
yang menyedihkan membuat kita menjadi malu... kecewa... marah.... bahkan terluka....

sebagian besar orang akan menyetujui jika ditanya: "perlukah orang bersikap jujur??"
hampir semua bahkan berpendapat.... "katakan kejujuran walau terasa pahit"
tapi pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri: "beranikan saya juga jujur terhadap orang lain??"
jujur terhadap diri kita sendiri....
jujur terhadap tindakan kita...
jujur terhadap pikiran kita...
jujur terhadap perasaan kita...
jujur terhadap keadaan kita sebagai manusia yang tidak sempurna...

Jika menyangkut hal-hal yang menyenangkan... yang membanggakan....
sangat tidak sulit untuk mengutarakannya dengan leluasa.... tanpa beban...
tapi bagaimana dengan hal-hal yang menyedihkan...yang mengecewakan...
ingin melupakannya?? ingin melarikan diri dari keadaan?? ingin menyalahkan sekitar dan membela diri??

Banyak dari kita tidak berani jujur...
karena takut kehilangan...
karena takut dihina...
karena takut ditertawakan...
karena takut ditolak...
karena takut dianggap aneh...
karena takut dijauhi...
karena takut dimusuhi...

Memang ada berbagai reaksi manusia...
menanggapi kejujuran...
ada yang bersikap biasa saja...entah karena terbiasa... atau karena tidak perduli...
ada yang bersikap berlebihan... menghakimi... bahkan memusuhi...
ada yang bersikap menerima... mengampuni.... memaklumi... memahami...
ada yang bersikap menghargai... menghargai keberanian.... dan ketegaran...

hidup ini adalah pilihan...
termasuk pilihan untuk bersikap jujur atau tidak...
mari kita merefleksikan kejujuran dalam hidup kita...
beranikah saya dengan jujur menghadapi kejujuran??


Pilihan

hitam atau putih...
baik atau buruk...
benar atau salah...
dingin atau panas...
panjang atau pendek...
kanan atau kiri...
atas atau bawah...
tidur atau bangun...
pagi atau malam...
siang atau sore...
basah atau kering...
lari atau jalan...
diam atau gerak...
bicara atau bungkam...
riuh atau rendah...
ramai atau sepi...
gempita atau sunyi...
lama atau sebentar...
hidup atau mati...
kuliah atau kerja...
istirahat atau bekerja...
insani atau Illahi...
pergi atau tinggal...

setiap saat...
setiap waktu...
pilihan selalu ada...
bahkan disaat tertentu...
kita dihadapkan pada pilihan...
memilih atau tidak memilih...

Hidup ini adalah tentang pilihan...
pilihlah selagi ada kesempatan...
dan kemudian jangan lagi menyesali...
karena semua pasti punya konsekuensi...


Jumat, 10 September 2010

Tubuhku bait Allah

Banyak yang dunia ini tawarkan...
Banyak juga yang menggiurkan...
Mulai dari yang mencari kesenangan...
Sampai yang ketagihan...

Dunia belakangan hari ini...
Semakin menawarkan kepuasan diri...
Dari alasan seni...
Sampai ke pengakuan diri...

Tubuh dieksploitasi dengan berbagai tujuan...
Dari bisnis jalanan...
Sampai di kamar hotel berbintang...

Manusia dilucuti dengan pornografi...
Dari tayangan internet dan DVD...
Sampai dengan yang ketagihan mastrubasi...

Apakah kaum muda hanya berdiam diri...
Atau malah terus terjebak dalam mencari jati diri...
Mari menjadi solusi...
Bagi generasi ini...

Tubuh kita adalah Bait Allah...
Tempat semua berkat tercurah...
Jangan sia-siakan masa muda ini...
Mari ambil bagian dalam sejarah ini...

Katakan tidak pada pornografi...
Katakan tidak pada masturbasi...
Mari kita menjaganya tetap suci
Karena Tubuh kita adalah Bait Illahi ...



Syukuri dan sayangi yang sudah ada padamu

Jika kamu memancing ikan....
Setelah ikan itu terkait di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu....
Janganlah kamu lepaskan ia ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit oleh tajamnya mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang...
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja....
Karena dia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingatmu....

Jika kamu menampung air biarlah apa adanya, jangan terlalu mengharap pada tempatnya dan janganlah menganggap ia begitu teguh....cukuplah sekedar untuk keperluanmu....
Apabila sekali ia retak....tentu sukar untuk menambalnya seperti sedia kala
Akhirnya ia dibuang....Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi....

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah apa adanya....
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa....
Anggaplah dia manusia biasa.
Apabila sekali dia melakukan kesalahan bukan mudah bagi kamu untuk memaafkannya....
akhirnya kamu akan kecewa dan meninggalkannya.

Apabila kamu bisa memaafkannya, mungkin hubunganmu akan bisa selamanya dan terus sampai akhir hayat kalian....

Jika kamu telah memiliki sepiring nasi dan lauk... pasti baik untuk kesehatanmu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu tidak puas, coba mencari makanan yang lain..
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya.
Kamu akan menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang yang spesial.... yang membawamu kebaikan kepada dirimu.
Menyayangimu. Mengasihimu.
Mengapa kamu sia-siakan, coba membandingkannya dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya apabila dia menjadi milik orang lain Kamu juga yang akan menyesal..

Syukuri dan sayangi yang sudah ada padamu...

Mana semangatmu kawan

Ketika kau merasa sendirian...
Tidak ada yang peduli pada keadaanmu...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa hidupmu penuh masalah...
Dan kau ingin berlari menghindar...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa pelayananmu membosankan...
Dan kau ingin berhenti saja...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa semua sia-sia...
Dan kau menyesali apa yang telah kau kerjakan...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa tidak lagi ada jalan keluar...
Dan kau ingin diam terpaku saja...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa tidak lagi ada harapan...
Dan kau ingin berhenti berdoa dan berusaha...
Mana semangatmu kawan...

Mana semangatmu kawan...
Mari kita bangkit...
Dan tunjukkan...
Bahwa kita masih punya semangat...

Selasa, 07 September 2010

Semua akan binasa

Apa yang paling kau banggakan saat ini??
Orang Tuamu??
Saudara-mu??
Keluarga-mu??
Teman-mu??
Sahabat-mu??
Relasi-mu??
Kenalan-mu??
Rekanan-mu??
Studi-mu??
Gelar-mu??
Jabatan-mu??
Karier-mu??
Prestasi-mu??
Ketenaran-mu??
karya tangan-mu??
Pekerjaan-mu??
Usaha-mu??
Tempat tinggal-mu??
Pelayanan-mu??
Kekayaan-mu??
Kekuasaan-mu??
Kendaraan-mu??
Hobi-mu??
Pasangan-mu??


Semua akan binasa...
Karena tak ada yang kekal di dunia...
Bijaksanalah dalam menjalani hidup ini...
Supaya beroleh hidup kekal nanti...
Karena itulah yang abadi...
Kehidupan di Alam Surgawi...
Bersama Allah sendiri...
Dalam kebahagiaan abadi...


Senin, 06 September 2010

Kejujuran membawa Berkat

Kisah yang menarik dimana tetap mempertahankan prinsip menjadi orang baik dan harapan. David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya, terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orang tuanya. Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya, yaitu satu keping uang logam itu, ke dalam telepon.

"Halo, apa kabar?" telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km jauhnya berbicara. David dengan nada agak terisak berkata: "Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan." Ibu David berkata: "Anakku tersayang, mama tahu." "Sudah tahu, kenapa masih tidak mengirim uang?" David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung sebuah kesedihan yang mendalam. Firasat David mengatakan ada yang tidak beres, ia cepat-cepat bertanya, "Mama, apa yang telah terjadi di rumah?"

Ibu David berkata, "Anakku, papamu terkena penyakit berat, sudah lima bulan ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan, bahkan karena sakit telah kehilangan tempat kerjanya, sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah terputus. Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak mengirimimu uang lagi, Mama sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepadamu, tetapi kamu sudah dewasa, sudah saatnya mencari nafkah sendiri."

Ibu David berbicara sampai disitu, tiba-tiba menangis tersedu sedan. Di ujung telepon lainnya, air mata David juga "tes", "tes" tak hentinya menetes, dan ia berpikir Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung. David berkata kepada ibunya, "Mama, jangan bersedih, saya sekarang juga akan mencari pekerjaan, pasti akan menghidupi kalian."

Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul hingga pusing tujuh keliling. Masih 1 bulan lagi, semester kali ini akan selesai, jikalau memiliki uang, barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa liburan untuk bekerja menghasilkan uang. Akan tetapi sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau harus drop out.

Pada detik ketika David mengatakan "Sampai jumpa" kepada ibunya dan meletakkan gagang telpon itu, sungguh luar biasa menyakitkan, karena prestasi kuliahnya sangat bagus, selain itu ia juga menyukai kehidupan di kampus fakultas perdagangan Arlington tersebut. Sesudah meletakkan gagang telpon, pesawat telpon umum tersebut mengeluarkan bunyi gaduh, David dengan terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak keping dollar menggerojok keluar dari alat itu.

David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan tangannya menerima uang-uang tersebut. Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi, diambil untuk diri sendiri, 100% boleh, pertama: karena tidak ada yang tahu, ke dua: dirinya sendiri betul-betul sedang membutuhkan. Namun setelah bolak-balik dipertimbangkan, David merasa tidak patut memilikinya. Setelah melalui sebuah pertarungan konflik batin yang hebat, David memasukkan salah satu keping dolar itu ke dalam telepon dan menghubungi bagian pelayanan umum perusahaan telepon.

Mendengar penuturan David, nona petugas pelayanan umum berkata, "Uang itu milik perusahaan telepon, maka itu harus segera dikembalikan (ke dalam mesin telepon)."

Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali uang dimasukkan, pesawat otomat itu terus menerus memuntahkannya kembali. Sekali lagi David menelepon, dan petugas pelayanan umum yang berkata, "Saya juga tak tahu harus bagaimana, sebaiknya saya sekarang minta petunjuk atasan." Nada bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong memancarkan getaran kesepian dan kuyu, nona petugas pelayanan umum sangat dapat merasakannya, menilik perkataan dari ujung telepon dia merasakan seorang asing yang bermoral baik sedang perlu dibantu.

Tak lama kemudian, nona petugas pelayanan umum menelepon ulang pesawat otomat yang sedang bermasalah itu. Dia berkata kepada David, "Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata uang tersebut untuk anda, karena perusahaan kami saat ini tidak mempunyai cukup tenaga, tak ingin demi beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana."

"Hore!", David meloncat saking gembiranya. Sekarang, uang logam itu secara sah menjadi miliknya. David membungkukkan badannya dan dengan seksama nenghitungnya, total berjumlah 9 dollar 50 sen. Uang sejumlah ini cukup buat David bertahan hingga bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan nanti. Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum terus sepanjang jalan. Iamemutuskan membeli makanan dengan menggunakan uang itu lantas mencari pekerjaan.

Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket. Pada hari tersebut, David menjumpai boss perusahaan supermarket, menceritakan kepadanya tentang kejadian di telepon umum dan keinginannya untuk mencari pekerjaan. Si boss supermarket memberitahu David boleh datang bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja, sewaktu kuliah dan tidak terlalu sibuk juga boleh bergabung, karena boss supermarket merasa David adalah orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang seksama, membenahi gudang mutlak bisa dipercaya. David bekerja dengan sangat giat, boss sangat mengapresiasinya dan juga merasa kasihan. Si boss memberinya upah dobel.

Sesudah menerima gaji, David mengirimkan keseluruhan gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea siswa untuk satu semester berikutnya. Sesudah 1 bulan, uang dikirim balik ke David. Sang ibu menulis di dalam suratnya: "Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya juga telah mendapatkan pekerjaan, bisa mempertahankan hidup. Kamu harus belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan." Sesudah membaca surat itu, David menangis lagi. David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga tidak bakal meminta uang kepada David yang sedang perlu dibantu. Setiap kali memikirkan hal ini, David berlinang bersimbah air mata, sulit menenangkan gejolak hatinya.

Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan kuliahnya. Setelah lulus, David membuka sebuah perusahaan, tahun pertama, David sudah mengantongi laba US $ 100.000. Ia senantiasa tak bisa melupakan kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada perusahaan telepon tersebut: "Hal yang tak bisa saya lupakan untuk selamanya ialah, perusahaan anda secara tak terduga telah membantu dana US $ 9,50 kepada saya. Perbuatan amal ini, telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan menuju kondisi miskin, bersamaan itu juga telah memberi saya energi tak terhingga, mendorong saya setiap saat tidak melupakan untuk berjuang. Kini saya mempunyai uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 10.000 kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya."

Boss perusahaan telpon bernama Bill membalasnya dengan surat yang dipenuhi antusiasme: "Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang telah berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang yang paling patut kami keluarkan. Ini bukannya merujuk pada $9,50 yang dikembalikan dengan $10.000, melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami sebuah petuah tentang prinsip tertinggi kehidupan."

So, di saat-saat paling sulit, Pertama : Jangan melupakan harapan sudah ada di depan mata. Kedua: Jangan lupa menjaga moralitas.

Setelah 20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David? Di kota Chicago, Amerika, terdapat sebuah gedung mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC. Pendiri perusahaan ADDC, Presiden Direkturnya ialah David, selain itu juga David adalah salah satu penyumbang terbesar untuk badan amal.

Minggu, 05 September 2010

S I A L

Anda mungkin sering mendengar atau bahkan mengucapkan kata-kata sejenis ini:
"lagi sial dia"
"sial bener saya ini"
"duhh!! pake sial lagi"
"kasihan, lagi sial"
Bagi beberapa orang sial adalah suatu keadaan yang definitif...
Tapi bagi saya sial atau tidak adalah masalah persepsi... bagaimana anda memandang suatu keadaan... memandang suatu kondisi...

Beberapa waktu yang lalu, adik saya mengalami dua kali kecelakaan...
Insiden pertama, ketika dalam perjalanan pulang dari kampus motor saya yang dikendarainya menabrak mobil yang baru keluar dari tempat parkir di EX. Hasil akhirnya motor saya "patah leher" (bersyukur dia baik-baik saja, hanya lecet ringan di kaki)

ini hasilnya:



Insiden kedua ketika dalam perjalanan pulang dari kantor saya di kawasan Gading Serpong, Tangerang. Mobil yang dikendarai beradu dengan mobil lain. Dan hasil akhirnya, bemper mobil yang rusak parah (sayang blom sempat diabadikan dan sekarang sedang dalam masa pemulihan di bengkel) dan diskusi yang ngotot di pos polisi selama 4 jam (jam 18.00 - jam 22.00 lewat).

Dari kedua insiden yang saya ceritakan di atas, beberapa orang berpendapat adik saya sedang sial (bahkan adik saya sendiri berpendapat demikian). Tetapi bagi saya, kedua insiden ini adalah kesempatan yang baik untuk belajar.Insiden pertama mengajarkan supaya lebih berhati-hati dalam berkendara (apalagi keadaan di Jakarta yang semakin tidak ramah untuk berlalu lintas) sedangkan pada insiden kedua, kesempatan untuk belajar bahwa "damai" di jalan memang lebih baik daripada berurusan di pos polisi yang bertele-tele dan sangat menyita waktu dan energi. Belajar untuk bersikap tenang dalam mengatasi suasana yang tidak bersahabat dan penuh emosi, belajar untuk mengendalikan amarah, belajar bernegosiasi dan belajar bersikap tegas dalam mengambil keputusan.

Bagi saya setiap peristiwa bukan masalah beruntung atau tidak...
Bukan masalah sial atau tidak...
Tapi adalah tentang mau belajar atau tidak...
Mau mengambil pelajaran atau tidak...


-- Hidup ini adalah tentang persepsi dan pilihan, bagaimana kita memandang segala sesuatu dan kemudian menentukan pilihan atas pandangan itu --

Sabtu, 04 September 2010

Terima Apa Adanya

angan lihat mawar dari duri yang bisa melukai saja...
Tapi lihat juga indah kelopaknya ketika merekah...

Jangan lihat manusia dari kelemahannya saja...
Tapi lihat juga bahwa dalam dirinya ada citra Allah...

Jangan lihat bencana hanya mendatangkan musibah saja...
Tapi lihat juga hikmah kasih dibalik setiap peristiwa...

Jangan lihat hujan hanya mendatangkan banjir saja...
Tapi lihat bagaimana hujan memberi kesejukan bagi kita...

Jangan lihat matahari dari teriknya saja...
Tapi lihat bagaimana tanaman bertumbuh karena sinarnya...


Jangan hanya melihat dari segi yang baik atau buruknya saja...
Terimalah semua apa adanya...
Karena semua tercipta dengan sempurna...
dan sangat baik adanya...

Semakin Bodoh

Tuhan biarkan aku semakin bodoh dihadapanMU...
Supaya aku tidak menjadi sombong...

Tuhan biarkan aku semakin bodoh dihadapanMU...
Supaya aku makin mengandalkanMU...

Tuhan biarkan aku semakin bodoh dihadapanMU...
Supaya aku terus belajar dariMU...

Tuhan biarkan aku semakin bodoh dihadapanMU...
Supaya aku tidak cepat puas dengan apa yang telah kupelajari...

Tuhan biarkan aku semakin bodoh dihadapanMU...
supaya aku tidak pernah menjauh daripadaMU...


Egoiskah Aku

Saat teman sibuk mencari dana...
Aku ingin istirahat di rumah...
egoiskah aku??

Saat teman sedang bergumul...
Sementara aku sedang hang out...
egoiskah aku??

Saat teman sedang patah hati...
Sementara aku sedang berbunga-bunga...
egoiskah aku??

Saat teman sedang sibuk dengan pekerjaannya...
Sementara aku pulang kerja lebih awal...
egoiskah aku??

Saat teman sedang pelayanan...
Aku ingin refreshing...
egoiskah aku??

Egoiskah aku??
Jikalau aku tidak mengikuti kehendak kalian??
Atau egoiskah kalian??
Jika aku hanya mengikuti kehendak kalian??

Kamis, 02 September 2010

Jangan berdoa nanti tetapi sekarang

Jangan berdoa ketika keadaan kacau saja...
Berdoalah sekarang ketika semua baik-baik saja...

Jangan berdoa ketika sedang sedih saja...
Berdoalah sekarang ketika semua masih bergembira...

Jangan berdoa ketika engkau sedang susah saja...
Berdoalah sekarang ketika engkau sedang bahagia...

Jangan berdoa ketika engkau sedang kehilangan saja...
Berdoalah sekarang ketika engkau sedang memiliki...

Jangan berdoa ketika engkau sedang marah saja...
Berdoalah sekarang ketika engkau sedang sabar...

Jangan berdoa ketika engkau sedang kecewa saja...
Berdoalah sekarang ketika engkau sedang bangga...

Jangan berdoa nanti...
Tetapi berdoalah sekarang...
Karena sekarang engkau ingat...
Dan nanti engkau akan lupa...


Senin, 30 Agustus 2010

aku (dan anak-anak) membutuhkanmu

Mungkin selama ini kamu merasa tidak berarti bagiku...
Mungkin selama ini kamu merasa aku mandiri dan tidak membutuhkanmu...
Aku terlalu luar biasa...
Aku terlalu sempurna...

Kamu merasa aku telah mempunyai semuanya...
Kamu merasa aku bisa segalanya...
Aku tidak membutuhkan orang lain...
Aku tidak memerlukan dukungan dan bantuan...

Ketahuilah:

Aku membutuhkanmu...
Aku memerlukan bantuanmu...
Mari kutunjukkan...
Mari kujelaskan...

Kamu tahu bahwa karierku tidak akan selamanya berjalan sesuai harapan...
Aku membutuhkan pengertian...
Ketika keadaan sulit...
Dan aku harus lebih irit...

Ketika aku terlalu asik dengan pekerjaan...
Aku juga membutuhkan kamu yang mengingatkanku untuk berhenti sejenak dan pergi makan...
Kamu juga perlu tahu bahwa dibalik keceriaanku...
Pasti ada masa-masa sepi... kesepian... dan aku membutuhkanmu untuk menemaniku...

Ketika aku sedang mengalami masa-masa sendu...
Aku juga membutuhkanmu dengan kata-kata yang membangkitkan semangatku...
Aku juga membutuhkanmu untuk menemani aku mensyukuri kehidupan ini...
Aku memilihmu karena aku ingin kita bersama mensyukuri nikmat dan kebersamaan ini...

Aku ingin berbagi pengalaman hidupku denganmu...
Dan kamu juga bisa berbagi ceritamu kepadaku...
Ya, cerita apa saja...
Sedih dan gembira...
Suka dan duka...
Dan kita berbagi tawa dan tangis bersama...

Aku membutuhkanmu untuk melahirkan anak-anak kita...
Sebagai buah dari cinta kita...
Aku membutuhkanmu untuk mendidik anak-anak kita...
Supaya kelak mereka menjadi manusia yang berguna bagi Sang Pencipta...


Aku membutuhkanmu sebagai bunda...
Menemani anak-anak bermain dan bercanda...
Bertumbuh dalam kasih orangtua yang penuh cinta...
Menemani anak-anak memasuki alam tidur dalam bahagia...

Melihat senyum puas pada tidur pulas mereka...
Karena mereka tahu kedua orangtuanya begitu sayang pada mereka...

Sayangku...
Aku dan anak-anak membutuhkanmu...
Sayangku...
Kau sungguh berarti dalam hidupku...



http://ceritaeka.com/2010/08/20/kuis-agustus-di-ceritaeka/

Minggu, 29 Agustus 2010


Never ignore a person who loves and cares for you.
One day you may realize you've lost the moon while counting the stars.

Senin, 23 Agustus 2010

Terharu Biru

Baru saja aku chat dengan salah seorang sister in GOD.... percakapan awal seperti biasa.... basa basi terlebih dahulu... ngobrol sana sini.... ledek-ledekan ini itu.... Pembicaraan ringan pun berubah menjadi agak serius ketika aku menanyakan tulisan terbarunya.... yaa... dy juga punya kebiasaan menulis di blog... Singkat cerita aku membaca tulisan terakhirnya.... selesai membaca ada perasaan terharu... terharu atas perjuangannya bergumul dengan permasalahan hidupnya... mungkin saat itu masalahnya belum selesai... tapi aku percaya masalah itu membawanya untuk semakin mendekatkan DIA pada Tuhan.... Tuhan yang mengasihi dia dan akan tetap mengasihi apapun keadaannya...

Aku memang suka mendengar dan membaca mengenai kesaksian hidup seseorang... kesaksian bagaimana berjuang dalam pergumulan... bagaimana menghadapi masa-masa terkelam dalam hidup... bagaimana tetap berdoa walau seolah doanya tak pernah dikabulkan.... terus menapaki jalan kehidupan walau tajamnya kerikil pernasalahan selalu membuat terluka dan makin terluka... terus percaya dan beriman.... terus berpegang pada perkataan Tuhan bahwa IA adalah Allah yang setia...

Yang membuat aku terharu adalah ketika bagaimana mereka, para pejuang kehidupan, bisa begitu bertahan dalam badai dan hujan permasalahan... dan kemudian terus maju melangkah dalam iman dan pengalaman mereka akan Allah, menuju kepada kemenangan.... menuju tanah terjanji...

Janganlah takut dan gentar pada saat datangnya masa percobaan... tetapi bergembira dan bersyukurlah karena masalah dan persoalan menjadikan kita semakin dekat dan setia kepada DIA.... masalah yang kita hadapi tidak lebih besar daripada Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita.... 

Yakobus 1 :12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Minggu, 08 Agustus 2010

Tegas dan Tegar

Belajar untuk tegas dan kemudian tegar dalam menjalani keputusan yang diambil memang tidak mudah...
Hidup adalah pilihan...
banyak kali kita dihadapkan pada persimpangan pilihan...
mau melangkah kemana...
mau bersikap bagaimana...
semua adalah pilihan....
bahkan tidak memilih pun adalah pilihan... pilihan untuk tidak bersikap...


Untuk memilih saja kadang terasa sulit dan membingungkan...
Membuat ragu dan bimbang...
Terlalu banyak pertimbangan...
Terlalu ingin aman..
Apalagi kemudian harus tegar...
Karena pilihan yang telah diambil ternyata tidak menyenangkan...
Tidak sesuai dengan harapan...
Terlalu banyak penderitaan dan kesulitan...


Ketegasan memang diperlukan...
Karena ketegasan menghilangkan ketidakpastian...
Jika sudah tegas mengambil keputusan... harus juga disikapi dengan tegar...
Karena tidak selamanya keputusan yang diambil berjalan sesuai dengan harapan...
Ketegaran menjadi penting... ketika apa yang diputuskan ternyata tidak sesuai perkiraan dan harapan...


Hidup ini adalah tentang pilhan...
Maka buatlah pilihan dengan tegas...
Dan tegarlah ketika pilihan itu tidak sesuai dengan harapan...
Jangan takut untuk memilih atau mengambil keputusan...
Selama kesempatan masih diberikan... selama pilihan masih ada...
Belajarlah untuk menentukan pilihan dan menjalankannya...
Jangan lagi menoleh kebelakang... Jangan menyesali apa yang tidak kita pilih...
Belajar menatap masa depan dari setiap kesalahan dan kegagalan di masa lalu...

Tegaslah dalam bersikap dan menentukan pilihan...
Tegarlah dalam kesulitan dan penderitaan...



Selasa, 03 Agustus 2010

Tuhan lebih tau

Ku pinta padaMU rembulan yang indah...
Kau beri aku mentari yang cerah...

Ku mohon kau beri aku kesabaran...
Yang datang malah ujian hidup yang beruntun...

Ku minta Kau tinggal denganku...
Kau malah naik ke Surga meninggalkanku...

Ku berdoa supaya bahagia...
Mengapa derita selalu ada...

Melalui doa dan sahabat perlahan aku menyadari...
Kau beri aku mentari karena rembulan adalah bayangan mentari...
Kau beri aku ujian supaya aku belajar dan akhirnya mendapat kesabaran...
Kau pergi ke Surga untuk menyediakan rumah yang kekal bagiku...
Kau beri aku derita supaya aku bisa bersyukur di saat bahagia...

Tuhan tidak selalu mengabulkan apa yang ku pinta...
Tapi Tuhan selalu tau yang terbaik untukku...
Tuhan tidak selalu menuruti mauku...
Tapi Tuhan selalu memenuhi kebutuhanku...


Pujian dari hati

Ketidakadaan musik dan pemusik dalam suatu acara persekutuan doa seringkali dianggap menjadi kendala dalam pujian dan penyembahan. Banyak kali tim menjadi bingung dan panik ketika tidak ada musik dalam persekutuan doanya. Merasa ada yang "kurang", merasa ada yang "hilang".

Salah satu cara yang sering dilakukan adalah dengan "mengimpor" pemusik dari luar Persekutuan Doanya.
Musik memang merupakan elemen penting dalam pujian dan penyembahan, tetapi musik bukanlah esensi dari pujian. Musik memang membantu dalam pujian. Tapi musik bukan inti dari pujian. Musik memberikan ritme dan semangat, tapi musik bukanlah segalanya dalam pujian.

Pujian tetap dapat dinaikkan tanpa musik, pujian tetap bisa dikumandangkan tanpa alunan melodi.
Pujian tidak terbatas pada alat musik dan pemusik. Pujian tidak seharusnya dibatasi oleh nyanyian saja.
Pujian yang sejati datangnya dari hati yang menyembah, Pujian yang sejati datangnya dari hati yang bersyukur.


-- pujian datangnya dari hati, bukan dari senar gitar atau tuts keyboard --