Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2010

Kelembutan Bulan

Biru...
Sendu...
Kelabu...
Syahdu...

Rembulan...
Menawan...
Rupawan...
Penuh kelembutan...

Bulan Sang Ratu Malam...
Menyelimuti dengan sinar temaram...
Menemani isi bumi yang terlelap...
Membawa kedamaian yang sedap...

Kelembutan Bulan...
Memberikan ketenangan jiwa...
Bahwa dalam malam penuh kegelapan...
Masih ada harapan dan asa...

Menyapa sang Mentari

Pagi menjelang...
Sang Mentari menjulang...
Menyapa alam dengan berseri...
Membawa cahaya Illahi...

Burung hinggap kesana kemari...
Menyapa kehadiran Sang Mentari...
Kicau suara merdu menyanyi...
Menemani Cahaya kemilau menyinari...

Rumput hijau melambai...
Menyapa dengan tarian indah gemulai...
Bersama bunga warna warni...
Menyemarakan datangnya pagi...

Wahai, Sang Mentari...
Kehangatanmu yang menyelimuti...
Warna emas yang bersinar...
Tanda keagungan Allah yang terpancar...



Sabtu, 31 Juli 2010

Kasih yang Menyinari

Berjemur di alam terbuka...
Menikmati hangatnya pelukan mentari...
Bersama Sang Alam...
Menikmati cerahnya pancaran wajah mentari...

Pancaran Sinar Mentari...
Menyinari seluruh permukaan bumi...
Hanya yang bersembunyi...
Yang tidak bisa menikmati...

Pancaran Sinar Mentari...
Memberi kehangatan di pagi hari...
Pancaran Sinar Mentari...
Memberi sukacita di dalam hati...

Kasih Tuhan layaknya Sang mentari....
S'lalu menyinari...
S'lalu melingkupi...
S'lalu memberkati...

Kasih Tuhan layaknya Sang mentari...
S'lalu membangkitkan...
S'lalu menghangatkan...
S'lalu menyemangatkan...


Doa sang teratai


Sang teratai di tengah kolam...
Berada dalam kesempurnaan dengan alam...
Bersatu padu dengan cakrawala...
Berharmonisasi dengan warna...

Akar yang terjuntai panjang...
menandakan kesetiaan yang tak lekang...
Bunga yang merekah indah...
Menunjukkan bakti dan sembah...

Angin berhembus kencang...
Rintik hujan berjatuhan...
Tetap pada keadaan yang tenang...
Sang teratai tak tergoyahkan...

Seperti pendoa yang duduk bersila...
Demikianlah daun Sang teratai berada...
Memberikan inspirasi kepada manusia...
Seharusnya bagaimana kita berdoa...

Bulan dan Matahari

Pujian sang Matahari:

Wahai Rembulan, dindaku...
Sungguh lembut cah'ya birumu...
Membawa keelokan di malam hari...
Menyinari bumi yang telah sunyi...

Engkau menemani sang bintang...
Memancarkan kerlap kerlip yang cemerlang...
Engkau yang menjadi gugusan malam...
Membawa suasana damai tenteram...

Dindaku, Rembulan...
Senyummu menghiasi malam-malamku...
Membangkitkan kerinduan padamu...
Kala engkau hadir dengan indah purnamamu...



Pujian sang Bulan:

Kakanda, Sang Mentari...
Penguasa di pagi hari...
Sinar kuning keemasanmu...
Membangkitkan semangat hidup yang baru...

Engkau membangkitkan Sang Fajar...
Dengan terbitmu dari ufuk timur...
Pancaran sinarmu...
Memberikan harapan hidup yang baru...

Kakanda, Sang Mentari...
Kemilau cah'yamu yang berani...
Menjadikan aku berseri-seri...
Menantikan saat perjumpaan di senja hari...

Bulan dan Matahari:

Engkau yang menciptakan bumi...
Dan kami Rembulan dan Mentari...
Sungguh betapa kami harus mensyukuri...
Betapa kami telah diberi dan diberkati...

Kami Matahari dan Bulan...
Mengucapkan terima kasih kepadaMU, Tuhan...
KasihMU sungguh menyempurnakan kami...
Untuk terus menyelimuti bumi yang KAU cintai...

Kupu-Kupu pergumulan

Ulat menggeliat...
Daun menjadi tumpuan...
Ulat menggeliat...
Tidak ada satu pun yang berkenan melihat...

Waktu datang membisikkan kepada ulat...
Bahwa Sang Ulat tak perlu lagi menggeliat...
Karena telah tiba saatnya...
Sang ulat harus berhenti sesaat...

Saat bagi sang ulat menemukan keheningannya...
Saat bagi sang ulat menenun kediamannya...
Sang Ulat berdiam dalam kepompongnya...
Sang Ulat berdoa dalam kekosongannya...

Gerak sang ulat menjadi terhambat...
Gerak sang ulat menjadi tertambat...
Ruang sempit menjadi kediamannya sekarang...
Ruang sempit menjadi tahtanya sekarang...

Sang waktu kembali datang...
Menyapa sahabatnya Sang ulat...
Namun kini Sang ulat telah berubah...
Menjadi kupu-kupu yang penuh warna...

Kupu-Kupu yang menghiasi...
Kupu-kupu yang indah berseri...
Memancarkan keagungan Alam berseri...
Memancarkan keindahan Sang Illahi...

Jumat, 30 Juli 2010

Lautan yang menampung Kasih

Saat mata memandang...
Terhampar lautan luas membentang...
Pikirku melayang...
Betapa luar biasa Karunia Tuhan...

Dalam anganku...
Terbayang betapa luas dan dalamnya lautan...
Dalam benakku...
Terlintas betapa besar daya tampung sang lautan...


Saat pagi hari....
mentari memulai hari dengan menampakan diri dari lautan...
Dikala senja datang berganti...
mentari kembali menyelam masuk ke relung lautan...

Terbayang betapa lautan dapat menampung kasih Tuhan...
Kasih Tuhan yang tak pernah berkesudahan...
Terbayang KasihNYA yang memenuhi sampai ke jurang lautan...
Memenuhi kebutuhan kasih seluruh makhluk ciptaan...

Dalamnya lautan dapat diukur...
Namun tidak dengan dalamnya hati manusia...
Betapa harus kita bersyukur...
S'bab kasihNYA tak pernah terukur jua dalam hati manusia...


Alam Sang Guru Sejati

Alam mengajarkan banyak hal...
Karena alam lebih berpengalaman dari manusia...
Alam mengajarkan banyak hal...
Karena alam lebih bijaksana dari manusia...

Alam disakiti manusia...
Alam tidak akan diam saja...
Alam bukan pendendam...
Alam hanya mengajarkan manusia supaya hidup tenteram...

Manusia sudah seharusnya belajar dari alam...
Manusia harus belajar memahami alam...
Karena Alam adalah timbal balik...
Karena Alam adalah sebab dan akibat...

Mari kita menjadikan alam sebagai sahabat...
Supaya manusia semakin bermanfaat...
Mari jadikan alam sebagai Guru yang sejati...
Supaya manusia semakin diberkati...

Alam kembali menegur melalui gempa bumi dengan kekuatan 7,3 Skala Richter di Tasikmalaya.
(Rabu, 2 September 2009 Pukul 14:55 WIB)