Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Januari 2011

namanya juga usaha

Seorang ibu berumur 66 tahun menghampiriku yang sedang menunggu klien di pelataran Lobi WTC Mangga Dua siang itu. Mengawali pembicaraan dengan bercerita bahwa ia datang ke daerah Kota untuk bertemu saudaranya yang berjanji akan membantu mengurus operasi katarak yang dideritanya, dan ternyata tanpa kabar saudaranya itu telah pindah tempat tinggal. Iaibu ini juga menurut pengakuannya mengalami sakit jantung (selama berbicara seringkali menarik nafas panjang dan mengatur nafas lebih dahulu).Singkat cerita, ibu ini minta bantuan kepadaku untuk mengongkosinya naik kereta pulang ke daerah Banten, dia juga mengaku bahwa dari pagi masih belum makan. Aku mengajaknya makan (karena aku lebih suka memberi bantuan secara langsung berupa makanan daripada memberi uang yang entah akan dipergunakan untuk apa juga), tetapi dia menolak dan minta mentahnya saja. Akhirnya aku memberinya ongkos yang sudah kuperkirakan lebih daripada hanya sekedar membeli tiket kereta api.Cerita belum berakhir, ibu ini masih saja duduk, dan mengutarakan niatnya mencari obat untuk sakit jantungnya di daerah dekat Ancol, akhirnya aku mengantarnya naik Angkot. Sembari menanti angkot, dia bertanya mengenai keluarga dan pekerjaan aku. Begitu dia mendengar pengacara (kadang aku memang lebih suka mengaku pengacara, karena profesi pengacara lebih dikenal oleh orang awam, daripada ribet jelasin soal kerja Notaris) reaksinya langsung: “wah banyak duitnya donk, tambahin lagi donk”, reaksiku dalam hati: “Maksoed Loe??” Haa... begitulah manusia, entah serakah atau usaha. Aku hanya tersenyum dan menjawab: Itu saja (uang yang tadi kukasih) sudah cukup koq. Tidak lama kemudian, angkot datang dan ibu ini pun berangkat. Mencari usaha yang lain mungkin.

Rabu, 17 November 2010

Wanita & Pria

Wanita adalah:

1. Orang yang akan mendampingimu seumur hidup.
2. Orang yang akan melahirkan anak"Ǘ, walau dengan penuh rasa sakit.
3. Orang yang merawatmu sampai tua.
4. Orang yang akan merawatmu pd saat kau sakit.
5. Orang yang akan selalu mendukung walau kau gagal berpuluh" bahkan beratus" kali.
6. Orang yang memberikan hidupnya untukmu. Bahkan ia membuang egonya demi bersamamu. Bahkan saat kau menyakitinya, ia tetap berada ϑî sampingmu..
Sedangkan pria adalah..
1. Orang yang akan menjagamu seumur hidupmu.
2. Orang yang berkorban untukmu.
3. Orang yang menafkahimu.
4. Orang yang merawatmu pd saat kau sakit.
5. Orang yang memelukmu pada saat kau sedih.
6. Orang yang ingin membuatmu bahagia.
Mereka sama berharganya, hanya saja mereka mempunyai perbedaan" yang kadang membuat mereka menyakiti 1 sama lain, dan itu hanya dapat diatasi dengan pengertian dari kedua belah pihak.
Hidup itu singkat... Terlalu singkat untuk berbagai pertengkaran... Mengapa tidak kau bahagiakan saja pasanganmu, dan mengisi hari" kalian dengan penuh cinta, dan membuat pasanganmu tersenyum lebih lebar tiap harinya?
Bukankah itu lebih baik dan bahagia dibanding saling menyakiti? :) Walaupun banyak hal, dimana kenyataannya tak mudah untuk dilalui, bahkan terkadang enggan untuk melaluinya.
Melihat ke atas : memperoleh semangat untuk maju.
Melihat ke bawah : bersyukur atas semua yg ada.
Melihat ke samping : smangat kebersamaan.
Melihat ke belakang : sebagai pengalaman berharga.
Melihat ke dalam : untuk instropeksi &
Melihat ke depan : untuk menjadi lebih baik ...
Dari air kita belajar ketenangan.....
Dari batu kita belajar ketegaran.....
Dari tanah kita belajar kehidupan.....
Dari kupu-kupu kita belajar mengubah diri.....
Dari padi kita belajar rendah hati.....
Dari TUHAN kita belajar tentang kasih yang sempurna......

Selasa, 16 November 2010

Ketidakpercayaan

Hampir semua manusia pernah mengalami yang namanya ketidakpercayaan...
Tidak percaya dengan orang tua...
Tidak percaya dengan sahabat...
Tidak percaya dengan dirinya sendiri...
Bahkan... Tidak percaya dengan Tuhan...

Pernah mengalami itu??
Jujur.... saya pernah....

Saya pernah tidak percaya dengan mama saya untuk jangka waktu yang cukup lama...
Waktu itu usia saya sekitar 10 tahun...
Saya sharing ke dia tentang perasaan saya...
Saya bercerita bagaimana perasaan saya tentang papa saya...
Dan saya meminta mama untuk merahasiakan itu...
Mama memang punya tujuan yang baik...
Menyampaikan apa yang saya rasakan kepada Papa...
Supaya papa bisa mengerti saya...
Dan saya bisa semakin dekat dengan Papa...
Tapi ternyata....
Diluar dugaan...
Papa marah besar...
Dan akibatnya..... saya terluka...
Saya menjadi tidak percaya dengan Mama saya...


Dalam setiap perkenalan dan pertemanan...
Saya selalu menaruh takaran kepercayaan yang sama...
Saya percaya kepada setiap orang yang saya kenal....
Dengan takaran yang sama...
Tapi seiring waktu...
Kepercayaan itu menjadi naik dan turun...
Bertambah dan berkurang...
Karena sikap dan tindakan satu dengan yang lain...
Banyak kali saya juga menjadi tidak percaya dengan sahabat dan teman saya...


Disaat-saat tertentu...
Saya juga punya masalah dengan tidak percaya diri...
Saya bisa merasa hidup saya menjadi tidak ada artinya...
Saya merasa saya belum menjadi apa-apa...
Saya merasa saya harusnya lebih berhasil dari sekarang...
Lebih baik dari keadaan yang sekarang...
Dan saya menjadi tidak percaya dengan diri saya sendiri...


Saya pun pernah mengalami kondisi tidak percaya dengan Tuhan...
Krisis iman istilah lainnya...
Saya menjadi goyah...
Dan mudah sekali menyerah...
Menganggap semua yang saya lakukan harus dengan kemampuan saya sendiri...
Saya merasa Tuhan tidak berdaya...
Tuhan tidak menolong...
DIA.... tidak peduli...
bahkan... DIA tidak ada....


Namanya ketidakpercayaan itu datang dan pergi...
Banyak faktor yang mempengaruhi...
Suasana hati...
Kondisi...
Relasi...


Saya sangat bersyukur...
Saya mempunyai Tuhan yang begitu mengasihi...
Begitu sabar terhadap kelemahan saya yang satu ini...
DIA sungguh Allah yang setia dan penuh kasih...

Ketika relasi saya dengan orang tua sedang tidak baik...
DIA merancangkan kondisi-kondisi dimana saya bisa mensyukuri bahwa saya masih mempunyai orang tua...
Ketika saya punya masalah kepercayaan dengan teman saya...
DIA mengingatkan saya tentang teladan seorang sahabat yang dapat dipercaya...tentang seorang sahabat yang memberikan nyawaNya....
Ketika saya mengalami rasa tidak percaya diri...
Tuhan menyadarkan saya bahwa saya adalah unik dan berharga dimataNYA... saya diciptakan seturut citra Allah...
Dan ketika Saya tidak percaya kepada DIA...
DIA memeluk saya dengan kasihNYA... sampai saya merasa sungguh dicintai....

Sungguh Allahku dapat kupercaya...
Dengan caraNYA...
DIA menggantikan ketidakpercayaanku...
Menjadi pujian dan syukurku...



Setulus apa?

Pernah merasa kecewa atau marah dengan seseorang??

Karena bersikap tidak sesuai dengan harapan kita...tidak sesuai dengan perkiraan kita.... atau tidak sesuai dengan tebakan kita??

Coba sekarang cek diri kita..... cek pikiran kita.... cek sikap kita sendiri....
Apakah kita melakukannya karena mengharapkan sesuatu?? mengharapkan sesuatu yang sesuai dengan pikiran kita?? atau berharap sesuatu yang lebih??

Jangan-jangan ada yang namanya "ketidaktulusan"
Ketidaktulusan mengakibatkan kita menjadi...
kecewa...
marah...
jera...

Maka supaya tidak mengalami kekecewaan... kemarahan....

Kita harus memiliki ketulusan...
Ketulusan dalam berucap...
Ketulusan dalam bersikap...
ketulusan dalam memberi...
dan ketulusan dalam bertindak...

Jika ketulusan sudah dimiliki....
Kita tidak akan mempermasalahkan...
Kita tidak akan mengkritik...
Kita tidak akan kecewa...
Kita tidak akan marah...
apa pun yang nantinya akan kita terima... apapun yang akan kita hadapi...

Karena dengan ketulusan...kita menjadi pribadi yang bebas... apa pun balasannya.... kita tidak mempermasalahkannya...

Pilihan

hitam atau putih...
baik atau buruk...
benar atau salah...
dingin atau panas...
panjang atau pendek...
kanan atau kiri...
atas atau bawah...
tidur atau bangun...
pagi atau malam...
siang atau sore...
basah atau kering...
lari atau jalan...
diam atau gerak...
bicara atau bungkam...
riuh atau rendah...
ramai atau sepi...
gempita atau sunyi...
lama atau sebentar...
hidup atau mati...
kuliah atau kerja...
istirahat atau bekerja...
insani atau Illahi...
pergi atau tinggal...

setiap saat...
setiap waktu...
pilihan selalu ada...
bahkan disaat tertentu...
kita dihadapkan pada pilihan...
memilih atau tidak memilih...

Hidup ini adalah tentang pilihan...
pilihlah selagi ada kesempatan...
dan kemudian jangan lagi menyesali...
karena semua pasti punya konsekuensi...


Jumat, 10 September 2010

Syukuri dan sayangi yang sudah ada padamu

Jika kamu memancing ikan....
Setelah ikan itu terkait di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu....
Janganlah kamu lepaskan ia ke dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit oleh tajamnya mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang...
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja....
Karena dia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingatmu....

Jika kamu menampung air biarlah apa adanya, jangan terlalu mengharap pada tempatnya dan janganlah menganggap ia begitu teguh....cukuplah sekedar untuk keperluanmu....
Apabila sekali ia retak....tentu sukar untuk menambalnya seperti sedia kala
Akhirnya ia dibuang....Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi....

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah apa adanya....
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa....
Anggaplah dia manusia biasa.
Apabila sekali dia melakukan kesalahan bukan mudah bagi kamu untuk memaafkannya....
akhirnya kamu akan kecewa dan meninggalkannya.

Apabila kamu bisa memaafkannya, mungkin hubunganmu akan bisa selamanya dan terus sampai akhir hayat kalian....

Jika kamu telah memiliki sepiring nasi dan lauk... pasti baik untuk kesehatanmu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu tidak puas, coba mencari makanan yang lain..
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya.
Kamu akan menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang yang spesial.... yang membawamu kebaikan kepada dirimu.
Menyayangimu. Mengasihimu.
Mengapa kamu sia-siakan, coba membandingkannya dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya apabila dia menjadi milik orang lain Kamu juga yang akan menyesal..

Syukuri dan sayangi yang sudah ada padamu...

Mana semangatmu kawan

Ketika kau merasa sendirian...
Tidak ada yang peduli pada keadaanmu...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa hidupmu penuh masalah...
Dan kau ingin berlari menghindar...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa pelayananmu membosankan...
Dan kau ingin berhenti saja...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa semua sia-sia...
Dan kau menyesali apa yang telah kau kerjakan...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa tidak lagi ada jalan keluar...
Dan kau ingin diam terpaku saja...
Mana semangatmu kawan...

Ketika kau merasa tidak lagi ada harapan...
Dan kau ingin berhenti berdoa dan berusaha...
Mana semangatmu kawan...

Mana semangatmu kawan...
Mari kita bangkit...
Dan tunjukkan...
Bahwa kita masih punya semangat...

Aku tidak tau... sampai...

Aku tidak tau makna hidupku...
Sampai DIA yang hadir dan menawarkan arti hidup yang baru...

Aku tidak tau mengapa hidupku begitu rapuh...
Sampai DIA yang menyadarkan bahwa aku slalu ditopang tangan kasihNYA...

Aku tidak tau kenapa masalah bertubi-tubi datang kepadaku...
Sampai DIA yang memberi pengertian kepadaku bahwa aku harus belajar dengan menghadapi setiap masalahku...

Aku tidak tau kenapa harus berdoa...
Sampai DIA menyadarkan aku bahwa dalam doa DIA hadir...

Aku tidak tau kenapa harus saling mengasihi...
Sampai DIA mengajarkan kepadaku bahwa Allah sendiri adalah kasih dan ketika aku mengasihi Allah hadir...

Aku tidak tau kenapa harus memaafkan...
Sampai DIA menunjukkan bahwa memaafkan mendatangkan damai sukacita dan pemulihan...

Aku tidak tau kenapa Allah mau menjadi manusia dan kemudian disalib...
Sampai DIA memberitahukan kepadaku bahwa melalui saliblah aku dan kamu diselamatkan...

Selasa, 07 September 2010

Sang Penolong

Aku butuh seorang penolong...
Yang menolongku dari kekhawatiran...
Dengan membisikkan kata-kata yang menenangkan...

Aku butuh seorang penolong...
Yang menolongku dari keraguan...
Dengan membisikkan kata-kata yang memberi kepastian...

Aku butuh seorang penolong...
Yang menolongku dari kemarahan...
Dengan membisikkan kata-kata yang melembutkan hati...

Aku butuh seorang penolong...
Yang menolongku dari kesalahanku...
Dengan membisikkan kata-kata yang memberi pengampunan...

Aku butuh seorang penolong...
Yang menolongku dari kesendirian...
Dengan membisikkan kata-kata yang mengingatkan Tuhan selalu menyertaiku...

Aku butuh seorang penolong...
Yang menolongku dari keputusasaan...
Dengan membisikkan kata-kata yang memberi harapan baru...

Aku butuh seorang penolong...
Yang menolongku dari kemalasan...
Dengan membisikkan kata-kata yang menyemangati...


Aku butuh seorang penolong...
Dan aku tau hanya Yesus...
Sang Penolong sejati...
Yang sanggup melakukan itu semua...

Aku tidak tau

Aku tidak tau kapan kiamat...
Tapi aku tau itu semakin dekat...

Aku tidak tau kenapa aku dilahirkan...
Tapi aku tau ada tujuan dari Tuhan...

Aku tidak tau hari depanku seperti apa...
Tapi aku tau Tuhan ada di sana...

Aku tidak tau kapan aku akan mati...
Tapi aku tau aku akan hidup abadi...

Aku tidak tau dimana Surga berada...
Tapi aku tau Tuhan akan tunjukkan dimana Surga berada...

Aku tidak tau bagaimana aku akan mati...
Tapi aku tau aku akan dibangkitkan setelah mati...

Aku tidak tau apa-apa...
Tapi aku tau Tuhan maha tau segalanya...
Dan DIA yang akan mengatur segalanya...
Tepat pada waktuNya...


Saudara tapi tak sedarah

Aku bersuka...
Kau berbagi denganku juga...
Aku berduka...
Kau juga setia dan ada...

Aku menyebutmu saudara...
Begitu juga kau menyebut aku saudara...
Karena kita berbagi suka dan duka...
Karena kita bersama berbagi rasa...

Kau punya keluarga sendiri di rumah...
Begitu pula aku sama saja...
Tapi kita selalu bersama...
Terlalu sering bersama...

Kita begitu akrab tertawa...
Kita begitu dekat dan erat...
Semua berpikir kita adalah saudara...
Tapi sebenarnya kita lebih dari sahabat...

Banyak hari telah kita lalui...
Banyak waktu telah kita lewati...
Itu semua tinggal memori...
Tapi semua sungguh berarti...

Walau tak berjanji sehidup semati...
Tapi kupercaya kau selalu di hati...
Karena kita sungguh sehati...
Dalam menggapai hidup penuh arti...

Kita bersaudara tapi tak sedarah...
Karena aku percaya ada yang mempersatukan kita...
Dia, Kristuslah yang mempersatukan kita...
Karena kita satu anggota tubuh dan Dialah kepalanya...

Senin, 06 September 2010

Kejujuran membawa Berkat

Kisah yang menarik dimana tetap mempertahankan prinsip menjadi orang baik dan harapan. David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya, terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orang tuanya. Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya, yaitu satu keping uang logam itu, ke dalam telepon.

"Halo, apa kabar?" telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km jauhnya berbicara. David dengan nada agak terisak berkata: "Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan." Ibu David berkata: "Anakku tersayang, mama tahu." "Sudah tahu, kenapa masih tidak mengirim uang?" David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung sebuah kesedihan yang mendalam. Firasat David mengatakan ada yang tidak beres, ia cepat-cepat bertanya, "Mama, apa yang telah terjadi di rumah?"

Ibu David berkata, "Anakku, papamu terkena penyakit berat, sudah lima bulan ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan, bahkan karena sakit telah kehilangan tempat kerjanya, sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah terputus. Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak mengirimimu uang lagi, Mama sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepadamu, tetapi kamu sudah dewasa, sudah saatnya mencari nafkah sendiri."

Ibu David berbicara sampai disitu, tiba-tiba menangis tersedu sedan. Di ujung telepon lainnya, air mata David juga "tes", "tes" tak hentinya menetes, dan ia berpikir Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung. David berkata kepada ibunya, "Mama, jangan bersedih, saya sekarang juga akan mencari pekerjaan, pasti akan menghidupi kalian."

Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul hingga pusing tujuh keliling. Masih 1 bulan lagi, semester kali ini akan selesai, jikalau memiliki uang, barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa liburan untuk bekerja menghasilkan uang. Akan tetapi sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau harus drop out.

Pada detik ketika David mengatakan "Sampai jumpa" kepada ibunya dan meletakkan gagang telpon itu, sungguh luar biasa menyakitkan, karena prestasi kuliahnya sangat bagus, selain itu ia juga menyukai kehidupan di kampus fakultas perdagangan Arlington tersebut. Sesudah meletakkan gagang telpon, pesawat telpon umum tersebut mengeluarkan bunyi gaduh, David dengan terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak keping dollar menggerojok keluar dari alat itu.

David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan tangannya menerima uang-uang tersebut. Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi, diambil untuk diri sendiri, 100% boleh, pertama: karena tidak ada yang tahu, ke dua: dirinya sendiri betul-betul sedang membutuhkan. Namun setelah bolak-balik dipertimbangkan, David merasa tidak patut memilikinya. Setelah melalui sebuah pertarungan konflik batin yang hebat, David memasukkan salah satu keping dolar itu ke dalam telepon dan menghubungi bagian pelayanan umum perusahaan telepon.

Mendengar penuturan David, nona petugas pelayanan umum berkata, "Uang itu milik perusahaan telepon, maka itu harus segera dikembalikan (ke dalam mesin telepon)."

Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali uang dimasukkan, pesawat otomat itu terus menerus memuntahkannya kembali. Sekali lagi David menelepon, dan petugas pelayanan umum yang berkata, "Saya juga tak tahu harus bagaimana, sebaiknya saya sekarang minta petunjuk atasan." Nada bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong memancarkan getaran kesepian dan kuyu, nona petugas pelayanan umum sangat dapat merasakannya, menilik perkataan dari ujung telepon dia merasakan seorang asing yang bermoral baik sedang perlu dibantu.

Tak lama kemudian, nona petugas pelayanan umum menelepon ulang pesawat otomat yang sedang bermasalah itu. Dia berkata kepada David, "Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata uang tersebut untuk anda, karena perusahaan kami saat ini tidak mempunyai cukup tenaga, tak ingin demi beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana."

"Hore!", David meloncat saking gembiranya. Sekarang, uang logam itu secara sah menjadi miliknya. David membungkukkan badannya dan dengan seksama nenghitungnya, total berjumlah 9 dollar 50 sen. Uang sejumlah ini cukup buat David bertahan hingga bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan nanti. Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum terus sepanjang jalan. Iamemutuskan membeli makanan dengan menggunakan uang itu lantas mencari pekerjaan.

Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket. Pada hari tersebut, David menjumpai boss perusahaan supermarket, menceritakan kepadanya tentang kejadian di telepon umum dan keinginannya untuk mencari pekerjaan. Si boss supermarket memberitahu David boleh datang bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja, sewaktu kuliah dan tidak terlalu sibuk juga boleh bergabung, karena boss supermarket merasa David adalah orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang seksama, membenahi gudang mutlak bisa dipercaya. David bekerja dengan sangat giat, boss sangat mengapresiasinya dan juga merasa kasihan. Si boss memberinya upah dobel.

Sesudah menerima gaji, David mengirimkan keseluruhan gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea siswa untuk satu semester berikutnya. Sesudah 1 bulan, uang dikirim balik ke David. Sang ibu menulis di dalam suratnya: "Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya juga telah mendapatkan pekerjaan, bisa mempertahankan hidup. Kamu harus belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan." Sesudah membaca surat itu, David menangis lagi. David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga tidak bakal meminta uang kepada David yang sedang perlu dibantu. Setiap kali memikirkan hal ini, David berlinang bersimbah air mata, sulit menenangkan gejolak hatinya.

Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan kuliahnya. Setelah lulus, David membuka sebuah perusahaan, tahun pertama, David sudah mengantongi laba US $ 100.000. Ia senantiasa tak bisa melupakan kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada perusahaan telepon tersebut: "Hal yang tak bisa saya lupakan untuk selamanya ialah, perusahaan anda secara tak terduga telah membantu dana US $ 9,50 kepada saya. Perbuatan amal ini, telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan menuju kondisi miskin, bersamaan itu juga telah memberi saya energi tak terhingga, mendorong saya setiap saat tidak melupakan untuk berjuang. Kini saya mempunyai uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 10.000 kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya."

Boss perusahaan telpon bernama Bill membalasnya dengan surat yang dipenuhi antusiasme: "Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang telah berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang yang paling patut kami keluarkan. Ini bukannya merujuk pada $9,50 yang dikembalikan dengan $10.000, melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami sebuah petuah tentang prinsip tertinggi kehidupan."

So, di saat-saat paling sulit, Pertama : Jangan melupakan harapan sudah ada di depan mata. Kedua: Jangan lupa menjaga moralitas.

Setelah 20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David? Di kota Chicago, Amerika, terdapat sebuah gedung mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC. Pendiri perusahaan ADDC, Presiden Direkturnya ialah David, selain itu juga David adalah salah satu penyumbang terbesar untuk badan amal.

Minggu, 05 September 2010

S I A L

Anda mungkin sering mendengar atau bahkan mengucapkan kata-kata sejenis ini:
"lagi sial dia"
"sial bener saya ini"
"duhh!! pake sial lagi"
"kasihan, lagi sial"
Bagi beberapa orang sial adalah suatu keadaan yang definitif...
Tapi bagi saya sial atau tidak adalah masalah persepsi... bagaimana anda memandang suatu keadaan... memandang suatu kondisi...

Beberapa waktu yang lalu, adik saya mengalami dua kali kecelakaan...
Insiden pertama, ketika dalam perjalanan pulang dari kampus motor saya yang dikendarainya menabrak mobil yang baru keluar dari tempat parkir di EX. Hasil akhirnya motor saya "patah leher" (bersyukur dia baik-baik saja, hanya lecet ringan di kaki)

ini hasilnya:



Insiden kedua ketika dalam perjalanan pulang dari kantor saya di kawasan Gading Serpong, Tangerang. Mobil yang dikendarai beradu dengan mobil lain. Dan hasil akhirnya, bemper mobil yang rusak parah (sayang blom sempat diabadikan dan sekarang sedang dalam masa pemulihan di bengkel) dan diskusi yang ngotot di pos polisi selama 4 jam (jam 18.00 - jam 22.00 lewat).

Dari kedua insiden yang saya ceritakan di atas, beberapa orang berpendapat adik saya sedang sial (bahkan adik saya sendiri berpendapat demikian). Tetapi bagi saya, kedua insiden ini adalah kesempatan yang baik untuk belajar.Insiden pertama mengajarkan supaya lebih berhati-hati dalam berkendara (apalagi keadaan di Jakarta yang semakin tidak ramah untuk berlalu lintas) sedangkan pada insiden kedua, kesempatan untuk belajar bahwa "damai" di jalan memang lebih baik daripada berurusan di pos polisi yang bertele-tele dan sangat menyita waktu dan energi. Belajar untuk bersikap tenang dalam mengatasi suasana yang tidak bersahabat dan penuh emosi, belajar untuk mengendalikan amarah, belajar bernegosiasi dan belajar bersikap tegas dalam mengambil keputusan.

Bagi saya setiap peristiwa bukan masalah beruntung atau tidak...
Bukan masalah sial atau tidak...
Tapi adalah tentang mau belajar atau tidak...
Mau mengambil pelajaran atau tidak...


-- Hidup ini adalah tentang persepsi dan pilihan, bagaimana kita memandang segala sesuatu dan kemudian menentukan pilihan atas pandangan itu --

Selasa, 31 Agustus 2010

Rasa Itu

Ketika Rasa itu hadir kembali...
Semua terasa begitu sunyi dan sepi...
Dan seperti biasa ketikaku merasakanya...
Aku akan menghasilkan karya...


Aku memang suka menulis tentang rasa...
Apa yang aku amati, apa yang aku alami, semua mempunyai makna...
Semua seolah begitu indah dan mengundang tanya...
Bertanya mengapa semua bisa terjadi dan ada...


Manusia memang dicipta dengan penuh rasa...
Maha Karya dari sang Pelukis Agung yang luar biasa...
Dalam diri manusia tidak ada yang biasa saja...
Semua itu sempurna adanya...


Manusia memiliki perasaaan...
Manusia diajak untuk memberi sentuhan dalam kehidupan...
Manusia diajak untuk mencari kebahagian...
Dengan terus belajar dari Sang Guru kebijaksanaan...


Manusia diberkati dengan perasaan...
Supaya bisa menikmati suka dan duka kehidupan...
Berenang dan tenggelam dalam pergumulan dan permasalahan...
Lalu belajar untuk mengandalkan Tuhan...


Manusia dan Rasa...
Memberi makna supaya hidup tidak biasa...
Menciptakan karya dan karsa...
Bagi Allah yang Maha Kuasa...

Senin, 30 Agustus 2010

aku (dan anak-anak) membutuhkanmu

Mungkin selama ini kamu merasa tidak berarti bagiku...
Mungkin selama ini kamu merasa aku mandiri dan tidak membutuhkanmu...
Aku terlalu luar biasa...
Aku terlalu sempurna...

Kamu merasa aku telah mempunyai semuanya...
Kamu merasa aku bisa segalanya...
Aku tidak membutuhkan orang lain...
Aku tidak memerlukan dukungan dan bantuan...

Ketahuilah:

Aku membutuhkanmu...
Aku memerlukan bantuanmu...
Mari kutunjukkan...
Mari kujelaskan...

Kamu tahu bahwa karierku tidak akan selamanya berjalan sesuai harapan...
Aku membutuhkan pengertian...
Ketika keadaan sulit...
Dan aku harus lebih irit...

Ketika aku terlalu asik dengan pekerjaan...
Aku juga membutuhkan kamu yang mengingatkanku untuk berhenti sejenak dan pergi makan...
Kamu juga perlu tahu bahwa dibalik keceriaanku...
Pasti ada masa-masa sepi... kesepian... dan aku membutuhkanmu untuk menemaniku...

Ketika aku sedang mengalami masa-masa sendu...
Aku juga membutuhkanmu dengan kata-kata yang membangkitkan semangatku...
Aku juga membutuhkanmu untuk menemani aku mensyukuri kehidupan ini...
Aku memilihmu karena aku ingin kita bersama mensyukuri nikmat dan kebersamaan ini...

Aku ingin berbagi pengalaman hidupku denganmu...
Dan kamu juga bisa berbagi ceritamu kepadaku...
Ya, cerita apa saja...
Sedih dan gembira...
Suka dan duka...
Dan kita berbagi tawa dan tangis bersama...

Aku membutuhkanmu untuk melahirkan anak-anak kita...
Sebagai buah dari cinta kita...
Aku membutuhkanmu untuk mendidik anak-anak kita...
Supaya kelak mereka menjadi manusia yang berguna bagi Sang Pencipta...


Aku membutuhkanmu sebagai bunda...
Menemani anak-anak bermain dan bercanda...
Bertumbuh dalam kasih orangtua yang penuh cinta...
Menemani anak-anak memasuki alam tidur dalam bahagia...

Melihat senyum puas pada tidur pulas mereka...
Karena mereka tahu kedua orangtuanya begitu sayang pada mereka...

Sayangku...
Aku dan anak-anak membutuhkanmu...
Sayangku...
Kau sungguh berarti dalam hidupku...



http://ceritaeka.com/2010/08/20/kuis-agustus-di-ceritaeka/

Kamis, 26 Agustus 2010

Mengapa Kau Pergi

Mengapa kau pergi...
Meninggalkan diri ini...

Mengapa kau pergi...
Saat aku mulai menikmati rasa ini...

Mengapa kau pergi...
Saat aku terbiasa dengan cinta ini...

Mengapa kau pergi...
Dan tidak ada kabar lagi...

Mengapa kau pergi...
Seolah tidak pernah ada yang terjadi...

Mengapa kau pergi...
Saat kau ada di hati ini...

Mengapa kau pergi...
Dan tidak pernah kembali...

Mengapa kau pergi...
Salahkah dengan diriku ini...

Mengapa kau pergi...
Tanpa ada penjelasan atas semua ini...

Mengapa kau pergi...
Mengapa.... Mengapa...

Senin, 23 Agustus 2010

melupakanmu

Melupakanmu...
tidak semudah itu...
Perlu waktu...
Penuh haru...

Melupakanmu...
Kuusahakan semampuku...
Walau kadang ragu...
Karena ku terlalu rindu...

Melupakanmu...
Sampai malam berlalu...
Tidak semudah pikirku...
Kar'na dirimu selalu membayangiku...

Melupakanmu...
Terlalu sulit bagiku...
Bukan karena ku tak mau...
Tapi karena kuterlalu cinta padamu...

Melupakanmu...
Butuh berapa lama sang waktu...
Karena kusadari ini semua t'lah berlalu...
Dan aku harus terus melangkah maju dalam hidupku...

Melupakanmu...
Dan segala tentangmu...
Melupakanmu...
Dan segala cinta masa lalumu...

Terharu Biru

Baru saja aku chat dengan salah seorang sister in GOD.... percakapan awal seperti biasa.... basa basi terlebih dahulu... ngobrol sana sini.... ledek-ledekan ini itu.... Pembicaraan ringan pun berubah menjadi agak serius ketika aku menanyakan tulisan terbarunya.... yaa... dy juga punya kebiasaan menulis di blog... Singkat cerita aku membaca tulisan terakhirnya.... selesai membaca ada perasaan terharu... terharu atas perjuangannya bergumul dengan permasalahan hidupnya... mungkin saat itu masalahnya belum selesai... tapi aku percaya masalah itu membawanya untuk semakin mendekatkan DIA pada Tuhan.... Tuhan yang mengasihi dia dan akan tetap mengasihi apapun keadaannya...

Aku memang suka mendengar dan membaca mengenai kesaksian hidup seseorang... kesaksian bagaimana berjuang dalam pergumulan... bagaimana menghadapi masa-masa terkelam dalam hidup... bagaimana tetap berdoa walau seolah doanya tak pernah dikabulkan.... terus menapaki jalan kehidupan walau tajamnya kerikil pernasalahan selalu membuat terluka dan makin terluka... terus percaya dan beriman.... terus berpegang pada perkataan Tuhan bahwa IA adalah Allah yang setia...

Yang membuat aku terharu adalah ketika bagaimana mereka, para pejuang kehidupan, bisa begitu bertahan dalam badai dan hujan permasalahan... dan kemudian terus maju melangkah dalam iman dan pengalaman mereka akan Allah, menuju kepada kemenangan.... menuju tanah terjanji...

Janganlah takut dan gentar pada saat datangnya masa percobaan... tetapi bergembira dan bersyukurlah karena masalah dan persoalan menjadikan kita semakin dekat dan setia kepada DIA.... masalah yang kita hadapi tidak lebih besar daripada Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita.... 

Yakobus 1 :12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Selasa, 10 Agustus 2010

Tuhan ajari aku

Tuhan ajari aku untuk menghitung...
Terutama untuk menghitung berkatMU setiap hari...

Tuhan ajari aku untuk mengampuni...
Terutama untuk mengampuni mereka yang bersalah kepadaku...

Tuhan ajari aku untuk mendoakan...
Terutama untuk mendoakan mereka yang sangat membutuhkan...

Tuhan ajari aku untuk memberi...
Terutama untuk memberi mereka yang kekurangan...

Tuhan ajari aku untuk mengasihi...
Terutama untuk mengasihi mereka yang terlantar dan terluka...

Tuhan ajari aku untuk menghibur...
Terutama untuk menghibur mereka yang berduka...

Tuhan ajari aku untuk menjadi muridMU...
Karena hanya Engkaulah Sang Guru sejati...

Minggu, 08 Agustus 2010

Tegas dan Tegar

Belajar untuk tegas dan kemudian tegar dalam menjalani keputusan yang diambil memang tidak mudah...
Hidup adalah pilihan...
banyak kali kita dihadapkan pada persimpangan pilihan...
mau melangkah kemana...
mau bersikap bagaimana...
semua adalah pilihan....
bahkan tidak memilih pun adalah pilihan... pilihan untuk tidak bersikap...


Untuk memilih saja kadang terasa sulit dan membingungkan...
Membuat ragu dan bimbang...
Terlalu banyak pertimbangan...
Terlalu ingin aman..
Apalagi kemudian harus tegar...
Karena pilihan yang telah diambil ternyata tidak menyenangkan...
Tidak sesuai dengan harapan...
Terlalu banyak penderitaan dan kesulitan...


Ketegasan memang diperlukan...
Karena ketegasan menghilangkan ketidakpastian...
Jika sudah tegas mengambil keputusan... harus juga disikapi dengan tegar...
Karena tidak selamanya keputusan yang diambil berjalan sesuai dengan harapan...
Ketegaran menjadi penting... ketika apa yang diputuskan ternyata tidak sesuai perkiraan dan harapan...


Hidup ini adalah tentang pilhan...
Maka buatlah pilihan dengan tegas...
Dan tegarlah ketika pilihan itu tidak sesuai dengan harapan...
Jangan takut untuk memilih atau mengambil keputusan...
Selama kesempatan masih diberikan... selama pilihan masih ada...
Belajarlah untuk menentukan pilihan dan menjalankannya...
Jangan lagi menoleh kebelakang... Jangan menyesali apa yang tidak kita pilih...
Belajar menatap masa depan dari setiap kesalahan dan kegagalan di masa lalu...

Tegaslah dalam bersikap dan menentukan pilihan...
Tegarlah dalam kesulitan dan penderitaan...